Opini

Menetaskan “Telur” Garuda: Solusi Mengatasi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia

Menetaskan “Telur” Garuda: Solusi Mengatasi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia
Pembukaan Pameran Lambang Negara dengan pemutaran film dokumenter produksi MKAA di Gedung Pancasila, tahun 2012

Sampailah Hamid berjumpa Residen Sintang, Ade Mohammad Djohan. Darinya Sultan Hamid membawa lambang kerajaan Sintang yang menggunakan profil Garuda. Garuda ini warisan Patih Lohgender dari Kerajaan Majapahit yang mempersunting anak Raja Sintang, Dara Juanti abad ke-14. Garuda telah hadir sebagai barang hantaran perkawinan Majapahit dan Sintang di gamelan serta gong dan diabadikan Kerajaan Sintang sebagai lambangnya sejak diikat tali pernikahan Patih Lohgender-Dara Juanti.

Sintang adalah wilayah yang tapal batasnya vis a vis dengan Negeri Jiran, Sarawak, Malaysia. Sultan Hamid tertarik karena Sintang menjadi simbolisasi mengamankan perbatasan – tapal batas wilayah Negara Indonesia Merdeka.

Figur Garuda dari Sintang itu cocok dengan masukan pendiri Taman Siswa di Yogyakarta, guru teladan Nusantara, Ki Hajar Dewantara kepada Sultan Hamid ketika merancang lambang negara sebelum Hamid mendarat di Sintang dengan pesawat capungnya. Ki Hajar Dewantara memberikan banyak foto Garuda yang telah abadi di goresan candi-candi sebagai peninggalan peradaban adiluhung yang bersemedi di Jawa. Peninggalan tokoh Brawijaya dengan Majapahit yang menguasai samudera.

Sultan Hamid mengakui bahwa pemilihan figur Garuda adalah sesuatu yang paling berat dalam merancang lambang negara. Begitupula dengan memasukkan butir idiologi Pancasila di dalam perisainya.