Kegelisahan sebagai warga bangsa yang mengerti ilmu seni dan budaya Indonesia muncul dari Daerah Istimewa Yogyakarta dalam dua dekade ini. Adalah seniman Nanang P Hidayat mendirikan Rumah Garuda. Dia prihatin, masyarakat kurang mengenal lambang negara sehingga Garuda ditampilkan sekenanya. Hal ini menurutnya adalah ekspresi dari ketidak-kenalan mereka dengan figur lambang negara. Kongruen dengan menanjaknya masalah-masalah bangsa seolah-olah kita tidak punya falsafah dalam menyelesaikannya. Padahal proses penciptaan lambang negara kental dengan kearifan-kearifan lokal seluruh Indonesia. Adiluhung teks maupun konteksnya. Jika dikuasai, teks dan konteks itu justru sebaliknya, menjadi “bom” dahsyat yang selalu relevan menumpas persoalan-persoalan kebangsaan. Tak terkecuali radikal-terorisme.
“Ada Garuda yang dipasang miring. Ada Garuda yang bolong. Ada Garuda yang lentur dan luntur. Ada yang macam-macam,” ungkap Nanang P Hidayat diwawancarai di Pontianak. Nanang memotret kondisi objektif-lapangan segala keadaan Garuda Pancasila di seluruh pelosok. Baik di ruangan, maupun luar ruang. Baik di kelas-kelas sekolah, kampus-kampus, hingga ke gapura-gapura, kampung-kampung. Nanang menghimpun potretannya dalam sebuah buku “Mencari Telur Garuda.”
