Opini

Menetaskan “Telur” Garuda: Solusi Mengatasi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia

Menetaskan “Telur” Garuda: Solusi Mengatasi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia
Pembukaan Pameran Lambang Negara dengan pemutaran film dokumenter produksi MKAA di Gedung Pancasila, tahun 2012

Kegelisahan sebagai warga bangsa yang mengerti ilmu seni dan budaya Indonesia muncul dari Daerah Istimewa Yogyakarta dalam dua dekade ini. Adalah seniman Nanang P Hidayat mendirikan Rumah Garuda. Dia prihatin, masyarakat kurang mengenal lambang negara sehingga Garuda ditampilkan sekenanya. Hal ini menurutnya adalah ekspresi dari ketidak-kenalan mereka dengan figur lambang negara. Kongruen dengan menanjaknya masalah-masalah bangsa seolah-olah kita tidak punya falsafah dalam menyelesaikannya. Padahal proses penciptaan lambang negara kental dengan kearifan-kearifan lokal seluruh Indonesia. Adiluhung teks maupun konteksnya. Jika dikuasai, teks dan konteks itu justru sebaliknya, menjadi “bom” dahsyat yang selalu relevan menumpas persoalan-persoalan kebangsaan. Tak terkecuali radikal-terorisme.

“Ada Garuda yang dipasang miring. Ada Garuda yang bolong. Ada Garuda yang lentur dan luntur. Ada yang macam-macam,” ungkap Nanang P Hidayat diwawancarai di Pontianak. Nanang memotret kondisi objektif-lapangan segala keadaan Garuda Pancasila di seluruh pelosok. Baik di ruangan, maupun luar ruang. Baik di kelas-kelas sekolah, kampus-kampus, hingga ke gapura-gapura, kampung-kampung. Nanang menghimpun potretannya dalam sebuah buku “Mencari Telur Garuda.”