Opini

Menetaskan “Telur” Garuda: Solusi Mengatasi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia

Menetaskan “Telur” Garuda: Solusi Mengatasi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia
Pembukaan Pameran Lambang Negara dengan pemutaran film dokumenter produksi MKAA di Gedung Pancasila, tahun 2012

Karya Muhammad Yamin ditolak parlemen RIS karena adanya sinar-sinar matahari terbit yang menyiratkan Tenno Heika-Jepang. Sedangkan lambang negara karya Sultan Hamid diterima karena menyiratkan Proklamasi 17/8/1945. Lambang negara karya Sultan Hamid diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soekarno pada 11 Februari 1950. Bung Karno bahkan memberikan disposisi perbaikan lambang negara pada 20 Februari 1950 agar lebih sempurna.

disposisi bung karno
Disposisi Bung Karno yang disalin ulang sesuai aslinya


Menonton Film Dokumenter Lambang Negara produksi MKAA, Ketua FKPT Kalbar yang juga Sekda Kalbar, M Zeet Hamdy Assovie membuka Pameran Lambang Negara serupa yang dikerjakan MKAA di Gedung Pancasila, 18/8/2013. 3000 warga memenuhi Gedung Arsipda Kalbar selama 3 bulan pameran. Yakni pada rangkaian peringatan Hut Kemerdekaan RI hingga Peringatan Sumpah Pemuda. Sebelumnya juga digelar sejumah diskusi terfokus dengan melibatkan peneliti seperti Turiman Faturrahman Nur serta Panglima Burung, Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting. Panglima Burung bahkan ikut mendampingi Sultan Hamid rapat penetapan lambang negara di Hotel Des Indes, tahun 1950. Saya masih berjumpa dan akrab berwawancara bersama Massuka.