Opini

Menetaskan “Telur” Garuda: Solusi Mengatasi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia

Menetaskan “Telur” Garuda: Solusi Mengatasi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia
Pembukaan Pameran Lambang Negara dengan pemutaran film dokumenter produksi MKAA di Gedung Pancasila, tahun 2012

Ingatlah bahwa dunia belajar Islam damai di Indonesia. Dan dengan memahami aspek kearifan lokal berupa simbol-simbol kearifan lokal sejak figur Garuda yang bermetamorfosis menjadi elang rajawali, kemudian kepak sayap maupun bulu-bulunya menyiratkan etos kejuangan proklamasi 17/8/1945 yang heroik. Kepala Garuda menoleh ke kanan yang berorientasi positif, tidak berprasangka negatif serta berbaik sangka atas sesama anak bangsa. Terutama sekali perisai sebagai tameng, alat pelindung. Di mana pada tameng itu menjadi jantung hati bersemayam perisai kecil berwarna hitam dengan nur cahaya ilahi berwujud bintang emas bersudut lima.

Dalam gerak tawaf, kanan ke kiri–berbalikan dengan arah jarum jam–bersimbolkan merah-putih, ada rantai bersambung 17 terdiri dari kotak (laki-laki) dan bulat (perempuan) bahwa sepasang makhluk ciptaan Tuhan ini mesti bersatu, saling melengkapi sehingga melahirkan “tetasan” telur Garuda yang membahana: manusia yang adil dan beradab. Memakmurkan Nusantara. Memakmurkan planet dunia.
Beringin tanda persatuan merupakan tempat bermusyawarahnya pemimpin dengan rakyatnya. Bahwa beringin bukanlah hegemoni Partai Golkar belaka, tetapi dari halaman Istana Yogyakarta. Di sana bersua antara raja dan rakyatnya.