Misalnya ide khalifah dalam tata negara Indonesia sehingga dalam berbagai aliran idiologisnya melahirkan kelompok sempalan dengan aksi bom bunuh diri dalam rangka menarik simpati berdirinya daulah islamiyah. Lantas terminologi jihad fii sabilillah dibengkokkan maknanya kepada para remaja dan pemuda miskin pemahaman sejarah Garuda Pancasila,lalu mudah diindoktrinasi bahwa Indonesia kafir atau musyrik. Padahal di jantung Garuda ada kakbah. Padahal dwi warna bertawaf keliling “kakbah” sebagai tanda gilir-balik setelah sila “tauhid” Ketuhan Yang Maha Esa, disusul sila kedua hingga kelima. Pancasila sudah bertawaf keliling kakbah. Lalu mau bentuk daulah islamiyah seperti apa lagi?
Pesan KH As’ad Syamsul Arifin, Purworedjo, Situbondo, Jawa Timur, “Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Indonesia, harus ditaati, harus diamalkan, harus tetap dipertahankan, dan harus dijaga kelestariannya.”
Gus Dur dengan nada canda mengingatkan pula, “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk aku jadi ana. Sampeyan jadi antum. Sedulur jadi akhi. Kita pertahankan milik kita. Kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya Arabnya.”
