Opini

Menetaskan “Telur” Garuda: Solusi Mengatasi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia

Menetaskan “Telur” Garuda: Solusi Mengatasi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia
Pembukaan Pameran Lambang Negara dengan pemutaran film dokumenter produksi MKAA di Gedung Pancasila, tahun 2012

Ribuan kepala setiap tahunnya yang datang bertandang menjadi energi menetasnya “telur-telur” Garuda. Generasi baru dengan semangat Indonesia baru. Indonesia Raya-Indonesia Kaya-Indonesia Jaya.

Harga Tanda Masuk hanya Rp 500 rupiah. Bea yang sangat murah setiap kepala untuk merawat Indonesia. Untuk “meruwat” Nusantara.

Begitu cara yang ditempuh Nanang P Hidayat untuk membumikan Garuda, sekaligus menjadi solusi atas masalah-masalah Bangsa Indonesia. Tak terbilang gamblang mereduksi nafsu radikalitas maupun niatan menjadi teroris.

Pada hari pahlawan, 10 Nopember 2020 dewan juri Festival Nadi Khatulistiwa (Fena-2020) telah menetapkan nama Nanang P Hidayat sebagai penerima “Livetime Achievment Award” atas jasa-jasanya membumikan Pancasila melalui pendekatan seni dari tampilan lambang negara dimana kental dengan unsur-unsur kearifan lokal Nusantara. Tak terkecuali cara hebatnya menetaskan telur Garuda lewat sosialisasi sejarah Lambang Negara dengan cara kesenian wayang. Selama ini pun kurang digali serta dikreatifisir lalu direfresentasikan kepada publik Jawa maupun publik Tanah Air.

nanang p hidayat
Nanang P Hidayat hadir di Kota Pontianak dengan tas “membumikan Pancasila” versi seniman yang mendirikan Rumah Garuda di Daerah Istimewa Yogyakarta


Kegelisahan yang sama menimpa Menteri Luar Negeri Dr Marti Martalegawa. Sebagai diplomat dia kerap ditanya tetamu mancanegara tentang betapa indahnya lencana yang dimiliki bangsa Indonesia. Garuda Pancasila yang kepak sayap melambangkan proklamasi kemerdekaan 17-8-(19-45).