Opini

Menetaskan “Telur” Garuda: Solusi Mengatasi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia

Menetaskan “Telur” Garuda: Solusi Mengatasi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia
Pembukaan Pameran Lambang Negara dengan pemutaran film dokumenter produksi MKAA di Gedung Pancasila, tahun 2012

Nanang saya wawancarai saat berkunjung dalam sebuah tim ekspedisi. Ekspedisi menggali kesejarahan lambang negara di Kota Pontianak–Kota Khatulistiwa–kota di mana sang perancang Sultan Hamid II Alkadrie–Menteri Negara Zonder Portofolio Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) dilahirkan, 12 Juli 1913 – wafat di Jakarta 30 Maret 1978 dan dimakamkan di makam kesultanan, Batulayang-Pontianak. Saya menemani Nanang P Hidayat “dolan-dolan” di ibukota Provinsi Kalimantan Barat. Nanang setia menenteng sebuah tas hitam dengan lambang negara Elang Rajawali Garuda Pancasila kemana-mana dengan maksud “membumikan” Pancasila.
“Penggunaan warna hitam pada tas adalah cermin duka saya atas kurang dikenalnya falsafah Garuda Pancasila. Warna putih pada garis lambang negara adalah simbol perjuangan saya untuk membumikan Pancasila. Saya mencari ‘telur Garuda’ lambang negara kita untuk ditetaskan,” ungkapnya.

Rumah Garuda yang dibangun Nanang P Hidayat di Kota Yogyakarta dekade awal milenial menjadi oase falsafah negara di tengah ketidak-mengertian kedalaman lambang negara bagi penduduk Nusantara. Rumah Garuda miliknya dibuka seperti museum negeri layaknya di seluruh persada negeri Ibu Pertiwi. Efektif. Dikunjungi oleh ribuan pelajar dan pelancong domestik maupun mancanegara. Sesekali ada pula lomba mewarnai bagi siswa Taman Kanak-Kanak. Tidak hanya dari DIY, tetapi juga dari berbagai kota di sekitarnya. Termasuk bagi anak-anak bangsa yang mengetahui adanya Rumah Garuda dari dunia maya.