
“Kami mengusulkan burung Ruai dan Burung Enggang,” kata Massuka Djanting. Alasannya Ruai adalah burung cerdas dan bersih. Sarang dibangunnya dengan sangat teliti dan hati-hati. Namun Ruai ditolak Hamid karena berhabitat perbukitan. Dia terbang rendah. “Lambang negara mesti terbang tinggi dengan gagah berani,” kutip Massuka Djanting yang juga tokoh adat Dayak Taman. Dayak Taman bermukim di Putussibau, daerah tapal batas NKRI dan Malaysia. Antara Badau dan Lubuk Antu.
Figur Enggang yang dikeramatkan suku Dayak di Kalimantan juga ditolak Mayjen KNIL Sultan Hamid padahal indah dan punya korsa setia, bahkan menjadi mitos sebagai Dewa bagi aliran kepercayaan, animisme maupun dinamisme, agama leluhur adat turun temurun. Demikian karena enggang berhabitat hutan, dan tinggal di pucuk-pucuk pohon semata-mata–tidak egaliter. Enggang tidak melanglang buana menguasai angkasa. Hamid masih meneruskan riset–atau pencarian artefak ilmiahnya–untuk Indonesia Merdeka.
