Opini

Menetaskan “Telur” Garuda: Solusi Mengatasi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia

Menetaskan “Telur” Garuda: Solusi Mengatasi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia
Pembukaan Pameran Lambang Negara dengan pemutaran film dokumenter produksi MKAA di Gedung Pancasila, tahun 2012

Kepak sayap melambangkan angka 17. Gerai ekor sejumlah delapan, cerminan bulan Agustus. 19 helai bulu pada pangkal ekor, dan 45 di leher perlambang tahun 1945.
Marti Martalegawa menjabat Menteri Luar Negeri pada era Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Ia mengaku tidak tahu detail setiap tampilan lambang negara dalam Garuda.

Penasaran dengan kenyataan pertanyaan para diplomat manca, Marti kemudian membentuk tim dengan rujukan keilmiahan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemenlu, yakni Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA). MKAA kemudian bekerja dengan standar prosedural ilmiah untuk mencari tahu kedalaman lambang negara sampai ke kearifan-kearifan lokalnya.

MKAA kemudian mempresentasikan hasil riset ilmiahnya dalam bentuk film dokumenter. Film dokumenter itu ‘dilaunching’ dalam forum ilmiah nasional, sekaligus naik tayang di kanal YouTube sejak delapan tahun yang lalu. 2012. Kini telah ditonton oleh 25.000 pasang mata. [Silahkan klik di platform YouTube: Indonesian Symbol]. 25 ribu pasang mata yang mafhum sejarah detail Lambang Negara akan menjadi agen menetasnya telur-telur Garuda yang bersublim pada rahim falsafah Pancasila.