in ,

Metaverse, Cara Mark Zuckerberg Menciptakan Planet Baru

Oleh: Joko Yuliyanto

Planet itu bernama Metaverse. Suatu teknologi Augmented Reality (AR) yang memungkinkan individu untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan individu lainnya seluruh dunia secara virtual. Pencetusan ide planet baru tersebut diinisiasi oleh Mark Zuckerberg untuk simulasi dunia manusia melalui internet. Usaha tersebut dinilai sebagai langkah revolusioner setelah teknologi internet dan sosial media melekat dalam kehidupan masyarakat.

Bukan hanya itu, kehadiran Metaverse setidaknya akan mengombinasikan lima teknologi sekaligus, yakni media sosial, game online, Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), dan cryptocurrencies. Metaverse akan menciptakan ruang baru yang di dalamnya ada dunia baru. Kehadiran pengguna akan direpresentasikan melalui avatar untuk melakukan aktivitas. Semua orang bisa saling berinteraksi layaknya di dunia nyata.

Ketika dulu bermimpi menciptakan robot dengan kecanggihan teknologi untuk memudahkan pekerjaan manusia, sekarang manusia malah terjebak menjadi robot-robot yang mulai meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan. Dunia digital membuat manusia sakau (hilang kesadaran) dengan menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar smartphone atau komputer. Aktif mempromokan diri dengan bebas mengumbar privasi.

Isu Metaverse sudah menjadi perbincangan dunia. Aset kripto pun terdongkrak naik sebab ada tipe aset kripto yang bisa berfungsi untuk transaksi jual beli aset virtual. Melalui Facebook, Metaverse adalah bentuk paling mutakhir dalam teknologi sosial. Facebook dapat mengantongi semua pengetahuan penting untuk menciptakan dunia digital seperti yang diinginkan. Mengetahui bagaimana orang berperilaku secara daring, kepribadian seseorang, hal yang disuka dan tidak, kiprah, minat, bahkan keadaan emosional pengguna.

Baca Juga:  Ketua MABM Kalbar Nikahkan si Bungsu, "Royal Wedding" ala Melayu

Jika Metaverse sudah beroperasi, maka pesaing Facebook akan merasa kesulitan untuk mengimbangi sistem digital serupa. Suatu saat Facebook akan memonopoli industri digital yang akan memudahkan mengatur masyarakatnya (manusia digital) di sebuah planet baru yang disebut Metaverse.

Usaha menciptakan dunia virtual bagi pengguna untuk berinteraksi dengan orang lain bukan sekadar visi yang mewah, namun juga kebutuhan bisnis. Orang-orang akan berbondong memasuki ruang baru yang ditemukan pengalaman realitas virtual yang lebih modern. Manusia menutut kebebasan dan Metaverse mencoba memfasilitasinya.

Masa Depan
Perkembangan pesat teknologi telah mengubah struktur masyarakat, politik, dan budaya. Ketergantungan terhadap peran teknologi, khususnya internet, membuat manusia mulai meninggalkan dimensi realitas sosial di masyarakat. Semua dituntut segera beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tidak tertinggal. Bahkan pemerintah aktif menggenjot pemerataan akses internet sebagai dalih keadilan dan kesejahteraan.

Teknologi memang ditujukan untuk memudahkan pekerjaan manusia menjadi lebih efektif dan efisien. Saat ini banyak orang yang menggantungkan pendapatan dari internet seperti menjadi blogger, YouTuber, influencer, berjualan (jasa dan barang) secara daring, hingga partisipasi kontes atau lomba. Era digital menghapuskan persepsi masyarakat bahwa kerja harus pergi ke kantor, dari pagi hingga sore.

Baca Juga:  6 Tahun yang Berwarna dan Bermakna

Dalam dunia digital, semua bisa bersaing secara bebas. Setiap orang punya potensi mendapatkan kesejahteraan (uang) berdasarkan tingkat kreativitas dan inovasi masing-masing. Tidak terikat aturan perusahaan, diskriminasi upah, hingga tarik ulur jenjang karir. Di mata teknologi, semua pengguna dianggap sama.

Kehadiran Metaverse menjadi penggugah kegelisahan manusia modern tentang masa depan dirinya sendiri, keluarga, hingga negara. Kekuatan kapitalis melalui teknologi telah mengubah peradaban manusia. Meninggalkan pemikiran kuno tentang pekerjaan, menurunkan intensitas sosialisasi di masyarakat, hingga mengubah tatanan sosial dan politik suatu negara.

Teknologi digital mampu menembus batas realitas (ruang dan waktu). Metaverse dirancang untuk setiap orang bisa berinteraksi dengan siapapun dan di manapun tanpa melewati aturan yang diterapkan negara. Berdasarkan data internetworldstats, total pengguna internet di Asia mencapai 2,77 miliar jiwa dari total populasi 4,33 miliar jiwa. Di Indonesia sendiri, pengguna internet sampai bulan Maret 2021 mencapai 212,35 juta jiwa. Potensi tersebut dimanfaatkan kapitalis teknologi untuk menciptakan planet baru (Metaverse) yang menembus batas teritorial negara dengan dipimpin oleh beberapa penguasa teknologi digital.

Baca Juga:  Satu Kata untuk Piala Dunia 2022 di Qatar: Beda!

Iming-iming yang ditawarkan Metaverse adalah pengalaman realitas seperti kehidupan saat ini. Sehingga di dalamnya, manusia bisa berkomunikasi, bersosialisasi, hingga bertransaksi. Semakin cepat mengunjungi planet baru tersebut, manusia berkesempatan mendapatkan barang-barang yang murah sebelum nanti nilainya naik seiring terbatasnya sumber daya, seperti tanah, minyak bumi, hingga emas.

Dampak politisnya adalah pemerintah tidak lagi punya kekuatan untuk mengatur masyarakat. Kesejahteraan masyarakat tidak bergantung lagi kepada pemerintah. Semua kebijakan akan diatur oleh pemilik planet baru. Ancaman dari kapabilitas teknologi big tech yang semakin berkembang dapat mengganggu tatanan sosial, ekonomi, bahkan politik suatu negara.
Secara ekonomi, techno-feodalism menyebabkan pasar akan didominasi oleh segelintir orang yang jumlahnya sangat sedikit namun kuat tanpa tandingan. Orang-orang tersebut tidak hanya menguasai pasar tetapi juga dapat menentukan perilaku pasar sesuai keinginan mereka. Metaverse juga mampu mendistorsi proses agregasi informasi untuk menggiring opini publik ke pemahaman yang keliru.

(Penulis adalah Penggagas Komunitas Seniman NU)

Written by teraju.id

Gelar Lomba Membacakan, Bukti Literasi Kubu Raya Selalu Menanjak

Siswa MAN 2 Pontianak, Ikuti Bimtek Menulis sampai Terbit